Tuesday, 19 August 2025

Seuntai Puisi Klasik Tanpa Pena

 

Luka di Bawah Langit yang Membisu

                                                                                               
Aku adalah laut yang dulu jernih,
menyimpan biduk pelita jiwamu dengan tenang.
Namun kini, ombakku bergerumuh,
badai mengguncang dadaku,
karena kau biarkan ranting-ranting asing 
menjadi angin yang menenggelamkan aku perlahan.


Aku adalah api yang pernah menghangatkan,
menyalakan lilin kebersamaan.
Tapi kau siram aku dengan badai nista,
kau biarkan nyala kasihku
menjadi abu yang beterbangan tanpa arah.


Aku adalah tanah yang rela retak,
agar benihmu tumbuh dan berbuah.
Namun kau biarkan akar ranting-ranting asingmu
menghisap semua yang tersisa, 
hingga aku tandus, kering tak lagi berarti.


Wahai nahkodaku,
kau biarkan aku bagai pohon di musim gugur,
daun-daunku luruh oleh kata-kata yang menusuk,
batangku digerogoti diam tak pedulimu.
Dan aku berdiri rapuh,
hanya berharap langit memberi setitik cahaya.

Malam sering menjadi saksi
air mataku jatuh seperti hujan,
menyusuri pipi tanpa suara,
menyatu dengan tanah luka yang semakin dalam.

Aku bukan sekedar bayang di tepi senja,
aku adalah perempuan yang pernah kau sebut rumah,
pernah kau jadikan pelabuhan.
Namun kini, aku hanyalah kapal karam,
ditinggalkan di samudra sepi,
menunggu ombak menenggelamkan.

Aku bukan hanya pelengkap dalam hidupmu,
Aku adalah pelindung dalam senyap,
penjaga dalam doa dan
cahaya dalam gelap.

...


 Created by Susan Bay✌






No comments:

Post a Comment